05 - 11 Nov 2025 day 2 Basic Technical Analysis
Prinsip Hidup, Pasar, dan Cara Menyikapi Trading dengan Tenang
Setiap orang dibentuk oleh prinsip-prinsip hidup yang ia pegang sejak awal. Prinsip-prinsip dasar inilah yang akhirnya membentuk siapa diri kita hari ini. Dalam kasus saya, prinsip tersebut membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih santai, lebih suka bercanda, dan tidak terlalu kaku dalam menjalani hidup. Itulah sebabnya, jika melihat keseharian saya—termasuk postingan di media sosial—isinya cenderung ringan, lucu-lucuan, dan tidak dibuat serius.
Saya nyaman dengan hidup saya sekarang. Saya bahagia dengan apa yang saya miliki. Menang atau kalah di market, saya tetap bisa tidur nyenyak.
Kenapa? Karena saya tahu satu hal: saya sudah melakukan yang terbaik, dan saya melakukannya dengan cara yang benar. Tidak ada hal aneh-aneh, tidak ada tipu-tipu. Kalau menang, ya menang bersama. Kalau kalah, ya kalah bersama. Intinya sederhana: let’s be happy. Orang mau bicara apa pun, ya silakan. Saya memilih untuk tetap bahagia.
Bercanda tentang Pasar, Tapi Pasar Menjawab dengan Nyata
Kemarin saya sempat bercanda soal BUMI. Candaan khas: “ngeng ngeng ngeng… dar!” Dan lucunya, kejadian itu benar-benar terjadi hari ini.
Lalu muncul pertanyaan: besok bagaimana?
Menurut pandangan saya, besok BUMI kemungkinan besar masih bermain di atas level 200. Apakah akan bertahan di atas 200 atau tidak? Jujur saja, saya tidak tahu.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena yang terpenting dalam trading adalah mengikuti market. Kita harus selalu bertanya: apa yang market mau? Satu prinsip yang harus selalu diingat: market is always right. Kita tidak boleh melawan market.
Kalau besok ternyata tidak kuat, tidak ada salahnya take profit sebagian. Mau TP semua juga silakan, nanti bisa buyback lagi. Apalagi untuk saham seperti BUMI, yang karakter swing-nya panjang. Pilihannya selalu ada dua, dan keduanya sah-sah saja. Kita lihat saja bagaimana market berbicara besok.
Proses Belajar yang Tidak Pernah Berhenti
Sebelum masuk ke materi dan screening saham, saya perlu sampaikan bahwa saya belum melakukan analisa mendalam hari ini. Alasannya sederhana: saya baru saja bertemu banyak orang dan belajar di berbagai tempat.
Sudah beberapa bulan terakhir, hampir setiap hari—setiap sore—rutinitas saya sama: sekitar pukul 16.15–16.30, saya mulai bertemu orang, berdiskusi, dan belajar, sering kali sampai tengah malam.
Saya bertemu berbagai tipe orang:
- bandar,
- fund manager,
- market maker,
- pelaku besar,
- orang-orang “aneh” dengan sudut pandang yang unik.
Dan satu hal yang ingin saya tekankan: saya hanya belajar. Tidak lebih dari itu.
Prinsip Teguh: Bermain sebagai Retail
Saya memegang prinsip yang sangat tegas: saya akan bermain selayaknya retail.
Tidak akan ada kerja sama tersembunyi. Tidak akan ada skenario “saya beli dulu, lalu kasih tahu ketika harga sudah di atas”. Tidak akan ada ajakan “ayo masuk” setelah posisi saya aman.
Hal-hal seperti itu tidak akan terjadi dalam hidup saya. Karena sejak awal, saya bukan orang yang berorientasi pada uang.
Apa pun yang terjadi, saya sudah bahagia dengan kondisi saya sekarang. Apa yang pernah saya cita-citakan, bahkan sudah diberikan lebih.
Jadi, tidak perlu khawatir.
Dampak Positif dari Terus Belajar
Karena terus belajar dan berinteraksi dengan banyak pelaku besar, cara saya membaca chart dan market pun semakin berkembang. Yang lucu, sering kali justru bandar-bandarnya sendiri yang memberi tahu cara mereka melihat market.
Kadang saya berpikir, “Loh, kenapa lu kasih tahu gue? Gue ini kan musuh lu.” Tapi ya sudah, mereka berbagi, dan saya terima dengan santai.
Saya menikmati proses ini. Saya happy. Bahkan menurut saya, ini justru hal yang sangat baik.
Pengalaman Pertama Mengikuti RUPS
Kemarin, saya juga mengalami pengalaman baru: mengikuti RUPS untuk pertama kalinya. Saya diundang sebagai tamu VIP, masuk ke ruangan khusus, makan bersama direksi dan komisaris.
Namun sejak awal saya sampaikan dengan tegas: “Saya tidak affiliated, dan saya tidak akan melakukan promosi apa pun.”
Mereka setuju.
Di sana saya bertemu banyak market maker dan pelaku besar yang sangat respected. Kami ngobrol santai. Ketika mereka bertanya saham apa yang saya mainkan, saya jawab: BUMI.
Hari itu BUMI full ARA. Mereka kaget. Ada yang bercanda mau ikut join, ada juga yang saya balik tanya, “Bang, ini barang mau ke mana?”
Semua hanya obrolan santai, tidak lebih.
Nasihat yang Selalu Sama dari Orang-Orang Besar
Dari semua pertemuan dengan orang-orang besar, ada satu nasihat yang selalu sama: be humble.
Mereka bilang:
“You are on the right track. Jangan sombong. Tetap seperti ini. Stay humble.”
Nasihat yang sama juga sering saya terima dari Kojon. Setiap kali saya lagi cuan besar atau main besar, pesannya selalu sama:
“Enjoy your life and be humble.”
Karena memang, di atas langit masih ada langit.
00:05:19.600
Basic Technical Analysis: Memahami Pola, Bukan Menyembah Pola
Mari kita mulai dengan teori hari ini: Basic Technical Analysis. Ini adalah basic technical analysis versi saya sendiri—by me, by Hany.
Namun, sejak awal saya ingin luruskan satu hal penting: basic technical analysis yang saya maksud bukanlah “basic” dalam arti dangkal.
Dan satu hal lagi: jangan berharap saya akan mengajarkan charting klasik.
Bukan Charting, Bukan Pamer Pola
Technical analysis yang saya ajarkan bukan:
- menggambar chart cantik,
- menghafal nama-nama pattern,
- atau sibuk menyebut: triangle, bullish flag, cup and handle, dan sejenisnya.
Bukan itu.
Hal-hal seperti itu sudah sangat banyak di luar sana. Apakah itu bekerja? Apakah terbukti? Jujur saja: saya tidak tahu.
Yang jelas, itu bukan fokus saya.
Saya ingin mengajarkan prinsip dasar technical analysis—prinsip yang benar-benar saya pakai sendiri. Tidak bertele-tele, tidak ditambah-tambah. Banyak hal lain sudah saya pelajari, tapi tidak saya ajarkan, karena saya sendiri tidak memakainya.
Untuk apa membuat semua orang bingung? Untuk apa terlihat keren dengan banyak indikator, tapi tidak menghasilkan uang?
Karena pada akhirnya, tujuan kita satu: making money.
Technical Analysis = Pattern
Sekarang kita masuk ke inti.
Technical analysis pada dasarnya adalah pattern—pola.
Pattern ini bisa berupa apa? Salah satu contohnya adalah moving average.
Apakah Moving Average Berguna?
Kalau kamu bertanya ke saya:
“Apakah moving average itu berguna?”
Kalau saya jawab “tidak berguna”, menurut saya itu jawaban bodoh.
Kenapa?
Karena moving average hanyalah rata-rata harga:
- MA20 = rata-rata 20 hari terakhir,
- MA200 = rata-rata 200 hari terakhir,
- dan seterusnya.
Secara matematis, itu masuk akal.
Kalau kamu bertanya ke seorang chartist:
“Apakah moving average berguna?”
Jawabannya hampir pasti: berguna.
Tapi kalau kamu tanya lebih dalam:
“Kenapa berguna?”
Sebagian besar akan bingung menjelaskan alasannya.
Sekarang pertanyaannya kita naikkan levelnya.
Kalau Bertanya ke Bandar, Jawabannya Apa?
Kalau kamu bertanya ke bandar:
“Moving average itu berguna atau tidak?”
Jawabannya tidak satu.
Bisa:
- berguna,
- tidak berguna,
- tidak peduli,
- atau suka-suka.
Jawaban paling tepat adalah: fifty-fifty.
Kenapa? Karena tergantung kamu bertanya ke bandar yang mana.
Bandar yang “Nurutin” MA20
Ada bandar yang sengaja menghormati MA20.
Setiap harga menyentuh MA20:
- harga mantul,
- mantul lagi,
- mantul lagi.
Akhirnya terbentuk persepsi:
“Wah, MA20 ini sakti.”
Pasar melihat itu. Retail melihat itu. Bandar menunjukkan apa yang mereka ingin pasar lihat.
Pesannya jelas:
“Kalau kena MA20, beli aja.”
Dan benar:
- mantul pertama,
- mantul kedua,
- mantul ketiga,
- mantul keempat.
Sampai suatu hari… tidak mantul lagi—langsung jebol.
Di situlah kita sadar: ini semua hanyalah pattern.
Pattern Adalah Kesepakatan Tidak Tertulis
Moving average, chart pattern, semua itu hanyalah:
kesepakatan tidak tertulis antara pelaku pasar
Selama pelaku besarnya mau mengikuti pola itu, pola tersebut terlihat bekerja. Kalau mereka berhenti mengikuti, pola itu mati.
Analogi Ani, Bella, dan Calung
Sekarang saya jelaskan dengan analogi sederhana.
Ada tiga orang:
- Ani
- Bella
- Calung
Mereka tinggal satu rumah.
Kebiasaan Mereka:
- Ani suka yoga jam 5 sore.
- Bella suka masak jam 10 malam.
- Calung santai, main gitar malam hari.
Setiap hari, selama bertahun-tahun:
- mereka tidur jam 10 malam,
- jam 11 sampai jam 12 adalah deep sleep,
- tidak pernah bolong.
Sudah berlangsung lima tahun.
Lalu Datanglah Pencuri
Suatu hari, saya (H) masuk ke rumah mereka. Tujuan saya jelas: mencuri.
Saya masuk jam 12.45 malam, karena:
- saya tahu itu jam paling lemas,
- mereka pasti tidur pulas.
Tapi apa yang terjadi?
Ternyata mereka tidak tidur. Mereka bertiga lagi main monopoli, begadang cari moon stock.
Saya ketahuan.
Kenapa Ini Penting?
Apakah saya bisa berkata:
“Eh, kalian kan biasanya tidur jam 10. Sekarang jam 12.45, harusnya tidur dong. Saya mau nyolong.”
Tidak bisa.
Kenapa?
Karena pattern bisa berubah.
Walaupun sudah dilakukan:
- 5 tahun,
- tanpa bolong,
- konsisten,
pattern tetap bisa berubah kapan saja.
Inilah Alasan Saya Tidak Percaya Chart Pattern Mutlak
Karena itulah saya tidak setuju kalau technical analysis hanya dipahami sebagai:
- triangle,
- bullish flag,
- cup and handle,
- dan pola-pola lain yang dianggap “pasti”.
Kalau kamu percaya itu:
- kamu harus backtest,
- berapa kali berhasil,
- berapa kali gagal,
- dalam kondisi apa berhasil,
- dalam kondisi apa gagal.
Dan faktanya:
semua pattern bisa gagal kapan saja.
Kesimpulan Utama
Technical analysis adalah pattern. Pattern:
- bisa dipelajari,
- bisa digunakan,
- tapi tidak mutlak.
Tidak ada satu pun dari kita yang berhak mendikte:
“Market harus begini.” “Harga harus begitu.”
Market bebas berubah kapan saja.
Sama seperti Ani, Bella, dan Calung:
- mau tidur,
- mau main monopoli,
- mau begadang,
- itu hak mereka.
Penutup
Itulah mengapa pendekatan saya dalam technical analysis adalah:
- memahami prinsip,
- bukan menyembah pola,
- membaca konteks, bukan menghafal bentuk.
Pattern hanyalah petunjuk, bukan kebenaran absolut.
Dan di sinilah kita lanjut ke materi berikutnya.
00:17:48.240
Memahami Technical Analysis: Pattern Itu Ada, Tapi Tidak Pernah Mutlak
Dalam sesi ini, kita akan membahas lanjutan dari basic technical analysis, khususnya mengenai pattern dalam charting, bagaimana pattern sering disalahpahami, dan mengapa pattern tidak boleh dijadikan pembenaran atas kesalahan analisis.
Technical Analysis dan Pola (Pattern)
Technical analysis pada dasarnya memang berkaitan dengan pattern. Banyak trader melihat grafik dan langsung menarik kesimpulan seperti:
- “Ini support”
- “Ini bullish flag”
- “Kalau begini harusnya naik”
Contoh paling sering adalah bullish flag pattern. Secara teori, pola ini menunjukkan potensi kenaikan harga. Bahkan jika kita mencari di Google “bullish flag pattern”, gambarnya akan terlihat sangat meyakinkan dan logis.
Masalahnya bukan pada polanya, melainkan pada keyakinan bahwa pola tersebut pasti bekerja.
Studi Kasus: Bullish Flag yang Gagal
Ambil contoh kasus saham PANI. Saat itu harga berada di sekitar Rp16.000, dengan isu right issue di harga Rp20.000. Jika melihat sejarah tahun-tahun sebelumnya, setiap kali right issue terjadi, saham tersebut biasanya:
- Sideways sebentar
- Lalu terbang sangat tinggi
Secara charting murni, pola yang terbentuk terlihat seperti bullish flag yang “sempurna”. Logikanya, setelah konsolidasi, harga seharusnya naik agresif.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Harga dibanting, bullish flag gagal, support demi support jebol, dan banyak trader ritel terjebak karena terus menjustifikasi kesalahan mereka dengan pola baru:
- “Ini support baru”
- “Ini koreksi sehat”
- “Ini sideways sebelum naik lagi”
Padahal realitanya, saham tersebut terus melemah.
Kesalahan Umum Trader Ritel
Inilah pola klasik yang sering terjadi di kalangan ritel:
- Masuk karena “support”
- Support jebol → cari support baru
- Masuk lagi karena “bullish flag”
- Harga jatuh → dibilang “koreksi sehat”
- Harga jatuh lagi → tetap beli
- Sampai akhirnya mental, modal, dan emosi habis
Pattern digunakan bukan sebagai alat analisis, melainkan sebagai alat pembenaran.
Pattern Bisa Berubah, dan Itu Sah
Pattern bukan hukum alam. Pattern bisa berubah kapan saja, bahkan setelah berjalan bertahun-tahun.
Sama seperti kebiasaan manusia:
- Sesuatu yang dilakukan 5 tahun berturut-turut tetap bisa berubah dalam satu hari.
- Tidak ada aturan bahwa kebiasaan tidak boleh berubah.
Begitu pula chart. Tidak ada kewajiban bagi market untuk menghormati:
- Bullish flag
- Triangle
- Cup and handle
- Support dan resistance
Karena itu, menganggap pattern sebagai sesuatu yang mutlak adalah kesalahan fatal.
Prinsip Penting yang Harus Dipegang
Ada beberapa prinsip sederhana namun krusial:
Masuk karena support → support jebol → cut Tidak ada alasan apa pun untuk bertahan.
Masuk karena RF beli → RF jual → ikut jual Jangan berharap harga akan naik hanya karena “feeling”.
Masuk karena isu (right issue, insider info, dll) Jika realisasi tidak sesuai isu → selesai, keluar.
Tidak ada kompromi.
Tentang Insider Info: Realita yang Menyakitkan
Ini bagian yang pahit, tapi harus disampaikan.
Kita bukan siapa-siapa.
Kita bukan orang besar, bukan pemilik modal raksasa, dan bukan bagian dari lingkaran inti. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memberikan kita informasi A1 secara konsisten.
Kalaupun suatu kali “insider” itu benar:
- Bisa sekali
- Bisa dua kali
- Tapi saat kamu masuk besar di ketiga kalinya, di situlah kamu disikat habis
Banyak “insider” yang sebenarnya:
- A4, bukan A1
- Datang saat harga sudah naik ribuan persen
- Diberikan ke publik ketika risiko justru paling besar
Maka, hati-hati dengan insider. Verifikasi, bukan percaya.
Price Discounts Everything
Prinsip paling penting:
Harga mencerminkan segalanya.
Jika benar right issue di Rp20.000, secara logika harga pasar seharusnya mendekati angka tersebut. Jika justru dibanting, itu berarti:
- Market tidak percaya
- Bandar belum siap
- Atau ada sesuatu yang tidak sesuai narasi
Ketika saham benar-benar sehat, sering kali justru:
- Sepi
- Tidak dibicarakan
- Tidak viral
- Tidak ada story Instagram
Dan tiba-tiba… naik.
Itulah alpha.
Alpha Tidak Pernah Datang dari Insider
Alpha datang dari:
- Analisa transaksi
- Akumulasi yang diam-diam
- Retail yang gugur
- Asing yang masuk pelan-pelan
Bukan dari rumor, bukan dari Telegram, bukan dari janji “target 100.000”.
Penutup
Pattern boleh dipelajari, tapi tidak boleh dipercayai sepenuhnya. Technical analysis bukan alat untuk merasa pintar, melainkan alat untuk mengelola risiko.
Jika salah → cut. Jika tidak sesuai → keluar. Jika ragu → jangan masuk.
Karena pada akhirnya, market tidak peduli dengan opini kita, dan harga akan selalu berkata jujur.
00:23:59.080
Jangan Gunakan Pola untuk Membenarkan Kesalahan: Pelajaran Penting dari Perilaku Retail, Insider Info, dan Price Action
Dalam praktik di pasar saham, ada satu pola yang sangat sering terjadi dan terus berulang: retail panik, lalu membuang sahamnya, sementara pihak yang lebih sabar justru mulai mengakumulasi. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa melihat fenomena ini?
Salah satu cara yang sering saya gunakan—bukan indikator teknikal dalam arti sempit—adalah SID (Single Investor Identification). Dari sana terlihat jelas bahwa retail mulai bolong, satu per satu keluar dari pasar. Namun, inti utama yang ingin saya sampaikan bukan sekadar soal indikator, melainkan tentang cara berpikir yang keliru terhadap pattern.
Pola Bisa Berubah, Tapi Kesalahan Sering Dibenarkan
Masalah terbesar banyak trader adalah menggunakan pattern technical analysis untuk menjustifikasi kesalahan. Contohnya begini:
- Masuk karena support
- Support jebol, lalu mencari support baru
- Support jebol lagi, cari support berikutnya
- Begitu seterusnya
Ujung-ujungnya, posisi disiksa perlahan, minus semakin besar, sampai akhirnya cut loss dalam kondisi tertekan. Saat itulah, ketika mereka sudah diam dan menyerah, justru kita mulai beli lagi. Setelah itu, saham kembali kuat, naik, dan kita bisa take profit dengan tenang.
Lucunya, pada fase ini tidak ada lagi yang bicara soal panik. Kenapa? Karena kebanyakan orang sudah gugur. Padahal, kalau dilihat dari transaction-wise, kondisinya justru sangat bagus. Tinggal menunggu giliran “jebretnya” saja.
Prinsip Dasar: Jangan Membela Posisi yang Salah
Ada beberapa prinsip sederhana yang harus dipegang:
Masuk karena support? Kalau support jebol, cut dulu. Tidak ada alasan.
Masuk karena RF beli? Saat RF jual, ikut jual. Jangan berharap harga “balik naik”.
Masuk karena isu atau right issue? Kalau realisasi tidak sesuai dengan yang dikabarkan, selesai. Jangan dipaksakan.
Misalnya, kamu dikasih tahu “insider info” bahwa right issue di Rp20.000 dan akhir tahun akan naik ke Rp100.000. Tapi tiba-tiba pengumumannya tidak sesuai. Artinya, tesis awal sudah tidak valid. Di situ seharusnya keputusan diakhiri, bukan dilanjutkan dengan harapan.
Fakta Pahit tentang Insider Info
Ini memang menyakitkan, tapi harus diterima: You are not that special.
Kita—termasuk saya—bukan siapa-siapa. Kita bukan orang besar, bukan bagian dari lingkaran dalam, dan bukan pihak yang akan dikasih informasi A1. Dalam banyak kasus, retail hanyalah likuiditas, “daging” yang siap disantap.
Mungkin:
- Sekali benar
- Dua kali benar
Tapi di kesempatan ketiga, saat kamu masuk besar, kamu bisa disikat habis sampai sumsum tulang. Itulah sebabnya, hati-hati dengan klaim insider.
Kalau ada saham dari ratusan perak naik ke ribuan, lalu kamu baru dikasih “insider” di harga 2.000, itu insider jenis apa? A1? Atau jangan-jangan cuma A4 HVS?
Karena itu, penting untuk selalu bertanya: Ini info A berapa?
Verifikasi, Bukan Percaya Buta
Apa pun yang kita konsumsi—analisa, isu, rekomendasi—harus diverifikasi. Cut loss lebih dulu bukan masalah. Justru saya selalu bangga dengan orang yang bilang:
“Saya dapat ini dari analisa sendiri, karena saya belajar.”
Belajar analisa secara utuh itu penting. Namun, ada satu prinsip besar yang tidak boleh dilupakan:
Price discounts everything. Harga mencerminkan segalanya.
Harga Tidak Bisa Bohong
Kalau benar right issue di Rp20.000, biasanya harga saham akan bergerak mendekati level itu, misalnya di 19.000-an, karena bandar mengangkat harga. Tapi kalau yang terjadi justru harga dibanting, berarti ada sesuatu yang tidak sesuai dengan narasi.
Hal yang sama terjadi pada fase euforia dan fase sunyi. Kadang isu besar beredar, tapi tidak ada yang membicarakan sahamnya lagi. Kenapa? Karena retail sudah gugur lebih dulu.
Namun jika kita melihat transaction-wise, bisa saja terlihat:
- Akumulasi besar
- Asing masuk banyak
- Retail keluar
Di situlah sebenarnya cerita dimulai.
Contoh Nyata: Akumulasi Diam-Diam
Ada saham yang naik heboh sampai puluhan ribu rupiah, terkesan tidak masuk akal. Tapi ada juga saham yang naiknya diam-diam, sunyi, tanpa promosi, tanpa insider. Justru itulah yang sering disebut alpha.
Alpha itu tidak pakai insider.
Seperti contoh saham yang sejak awal saya sebutkan ketika harganya masih di bawah, saat:
- Tidak ada yang peduli
- Tidak ada yang memperhatikan
- Tidak ada yang membicarakan
Saya terus menyebut namanya, berkali-kali. Saat itu, nobody noticed. Dan justru di situlah peluang besar biasanya lahir.
Penutup
Jadi, pelajaran utamanya jelas:
- Jangan gunakan pattern untuk membenarkan kesalahan
- Jangan bergantung pada insider info
- Selalu validasi dengan price action dan transaksi
- Terima bahwa kita bukan orang spesial di pasar
- Bangun analisa sendiri, bukan keyakinan palsu
Karena pada akhirnya, harga tidak pernah bohong. Dan pasar selalu menghukum mereka yang keras kepala, bukan mereka yang rendah hati dan disiplin.
00:31:42.440
Jangan Gunakan Pola untuk Membenarkan Kesalahan: Pelajaran Penting dari Perilaku Retail, Insider Info, dan Price Action
Dalam praktik di pasar saham, ada satu pola yang sangat sering terjadi dan terus berulang: retail panik, lalu membuang sahamnya, sementara pihak yang lebih sabar justru mulai mengakumulasi. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa melihat fenomena ini?
Salah satu cara yang sering saya gunakan—bukan indikator teknikal dalam arti sempit—adalah SID (Single Investor Identification). Dari sana terlihat jelas bahwa retail mulai bolong, satu per satu keluar dari pasar. Namun, inti utama yang ingin saya sampaikan bukan sekadar soal indikator, melainkan tentang cara berpikir yang keliru terhadap pattern.
Pola Bisa Berubah, Tapi Kesalahan Sering Dibenarkan
Masalah terbesar banyak trader adalah menggunakan pattern technical analysis untuk menjustifikasi kesalahan. Contohnya begini:
- Masuk karena support
- Support jebol, lalu mencari support baru
- Support jebol lagi, cari support berikutnya
- Begitu seterusnya
Ujung-ujungnya, posisi disiksa perlahan, minus semakin besar, sampai akhirnya cut loss dalam kondisi tertekan. Saat itulah, ketika mereka sudah diam dan menyerah, justru kita mulai beli lagi. Setelah itu, saham kembali kuat, naik, dan kita bisa take profit dengan tenang.
Lucunya, pada fase ini tidak ada lagi yang bicara soal panik. Kenapa? Karena kebanyakan orang sudah gugur. Padahal, kalau dilihat dari transaction-wise, kondisinya justru sangat bagus. Tinggal menunggu giliran “jebretnya” saja.
Prinsip Dasar: Jangan Membela Posisi yang Salah
Ada beberapa prinsip sederhana yang harus dipegang:
Masuk karena support? Kalau support jebol, cut dulu. Tidak ada alasan.
Masuk karena RF beli? Saat RF jual, ikut jual. Jangan berharap harga “balik naik”.
Masuk karena isu atau right issue? Kalau realisasi tidak sesuai dengan yang dikabarkan, selesai. Jangan dipaksakan.
Misalnya, kamu dikasih tahu “insider info” bahwa right issue di Rp20.000 dan akhir tahun akan naik ke Rp100.000. Tapi tiba-tiba pengumumannya tidak sesuai. Artinya, tesis awal sudah tidak valid. Di situ seharusnya keputusan diakhiri, bukan dilanjutkan dengan harapan.
Fakta Pahit tentang Insider Info
Ini memang menyakitkan, tapi harus diterima: You are not that special.
Kita—termasuk saya—bukan siapa-siapa. Kita bukan orang besar, bukan bagian dari lingkaran dalam, dan bukan pihak yang akan dikasih informasi A1. Dalam banyak kasus, retail hanyalah likuiditas, “daging” yang siap disantap.
Mungkin:
- Sekali benar
- Dua kali benar
Tapi di kesempatan ketiga, saat kamu masuk besar, kamu bisa disikat habis sampai sumsum tulang. Itulah sebabnya, hati-hati dengan klaim insider.
Kalau ada saham dari ratusan perak naik ke ribuan, lalu kamu baru dikasih “insider” di harga 2.000, itu insider jenis apa? A1? Atau jangan-jangan cuma A4 HVS?
Karena itu, penting untuk selalu bertanya: Ini info A berapa?
Verifikasi, Bukan Percaya Buta
Apa pun yang kita konsumsi—analisa, isu, rekomendasi—harus diverifikasi. Cut loss lebih dulu bukan masalah. Justru saya selalu bangga dengan orang yang bilang:
“Saya dapat ini dari analisa sendiri, karena saya belajar.”
Belajar analisa secara utuh itu penting. Namun, ada satu prinsip besar yang tidak boleh dilupakan:
Price discounts everything. Harga mencerminkan segalanya.
Harga Tidak Bisa Bohong
Kalau benar right issue di Rp20.000, biasanya harga saham akan bergerak mendekati level itu, misalnya di 19.000-an, karena bandar mengangkat harga. Tapi kalau yang terjadi justru harga dibanting, berarti ada sesuatu yang tidak sesuai dengan narasi.
Hal yang sama terjadi pada fase euforia dan fase sunyi. Kadang isu besar beredar, tapi tidak ada yang membicarakan sahamnya lagi. Kenapa? Karena retail sudah gugur lebih dulu.
Namun jika kita melihat transaction-wise, bisa saja terlihat:
- Akumulasi besar
- Asing masuk banyak
- Retail keluar
Di situlah sebenarnya cerita dimulai.
Contoh Nyata: Akumulasi Diam-Diam
Ada saham yang naik heboh sampai puluhan ribu rupiah, terkesan tidak masuk akal. Tapi ada juga saham yang naiknya diam-diam, sunyi, tanpa promosi, tanpa insider. Justru itulah yang sering disebut alpha.
Alpha itu tidak pakai insider.
Seperti contoh saham yang sejak awal saya sebutkan ketika harganya masih di bawah, saat:
- Tidak ada yang peduli
- Tidak ada yang memperhatikan
- Tidak ada yang membicarakan
Saya terus menyebut namanya, berkali-kali. Saat itu, nobody noticed. Dan justru di situlah peluang besar biasanya lahir.
Penutup
Jadi, pelajaran utamanya jelas:
- Jangan gunakan pattern untuk membenarkan kesalahan
- Jangan bergantung pada insider info
- Selalu validasi dengan price action dan transaksi
- Terima bahwa kita bukan orang spesial di pasar
- Bangun analisa sendiri, bukan keyakinan palsu
Karena pada akhirnya, harga tidak pernah bohong. Dan pasar selalu menghukum mereka yang keras kepala, bukan mereka yang rendah hati dan disiplin.
00:31:42.440
Proses Screening Saham: Mencari yang Bagus, Bukan Sekadar Ada
Mari kita lanjutkan mencari saham-saham yang bagus. Tapi sebenarnya, dalam praktiknya, saya tidak selalu aktif “mencari” saham. Alasannya sederhana: fokus utama saya sudah ada, terutama di BUMI dan INET.
Membaca Alur Asing dan Retail
Di BUMI, terlihat jelas siapa yang melakukan tekanan jual. Asing terlihat melakukan guyuran melalui broker seperti AK, MG, dan CP. Lalu pertanyaannya, siapa yang menyerap?
Jawabannya: retail. Terlihat dari broker-broker seperti XL, YP, YB, NI, dan OD yang aktif di sisi beli.
Yang menarik, volumenya sangat besar:
- Naik dengan volume
- Turun juga dengan volume
Artinya, ini bukan pergerakan kecil. Jadi untuk keesokan harinya, tinggal siap-siap mengamati lagi siapa yang masuk dan siapa yang keluar.
Ada Akumulasi Mendadak? Cek Dulu
Berikutnya, terlihat PTDU yang tiba-tiba ada indikasi akumulasi. Langsung saya cek:
- Siapa yang akumulasi?
- Volumenya berapa?
Ternyata volumenya cuma sekitar 5–6 juta, jadi belum terlalu signifikan. Kalau cuma segitu, belum cukup menarik, kemungkinan bukan backdoor besar. Jadi, lewat dulu.
Saham Lain: Ada yang Gerak, Tapi Tidak Layak Dimainkan
Masuk ke saham lain:
- PLN → belum jelas
- MORA → pergerakannya gila, tapi justru bikin ragu. Terlalu liar, dan saya tidak dapat ritmenya
Mulai cari yang benar-benar menarik, tapi:
- Banyak yang tidak liquid
- Ada yang liquid tapi tidak sesuai universe saya
Kalau tidak liquid, tidak main. Kalau bukan “my universe”, skip.
UTB dan Jejak Pemain Besar
Di UTB, terlihat keterlibatan Pak Haji Isam. Broker seperti SQ juga muncul, yang memang sering dipakai oleh pemain besar.
Ada indikasi distribusi ringan, kemungkinan:
- Tinggal support
- Koreksi sedikit
- Secara struktur masih oke
Tapi tetap, ini bukan prioritas. Bisa dilihat besok saja.
Lanjut Screening: AGRO dan Saham Lain
Masuk ke AGRO, saham yang sudah lama tidak dimainkan. Di sini terlihat:
- Pola broker bandar mulai muncul
Namun, strateginya jelas:
Tunggu breakout.
Kalau belum breakout, tidak ada alasan masuk.
Banyak yang Lewat, Itu Wajar
Setelah disaring satu per satu:
- Tidak ada yang benar-benar menarik
- Beberapa terlihat “oke”, tapi tidak cukup kuat
- Ada yang sudah terbang duluan → telat
Contohnya:
- ISAK → menarik, tapi sudah naik terlalu jauh
- ESA → secara teknikal bagus, volume mulai naik
Namun untuk ESA, ada faktor psikologis:
Pernah trauma, sering “dikarungin”.
Padahal kalau ESA jalan, biasanya kencang banget. Tapi untuk sekarang:
Lupakan dulu.
Kesimpulan: Screening Itu Soal Menyaring, Bukan Memaksa
Dari seluruh proses ini, intinya jelas:
- Tidak semua saham yang bergerak layak dimainkan
- Tidak menemukan peluang itu normal
- Lebih baik tidak masuk daripada masuk tanpa keyakinan
Prinsipnya:
- Liquid → cek
- Volume masuk akal → cek
- Struktur jelas → cek
- Kalau ragu → skip
Pasar tidak ke mana-mana. Yang penting disiplin dalam proses, bukan FOMO dalam keputusan.
00:36:35.880
Harga Tidak Pernah Bohong: Distribusi, Suspend, dan Pentingnya Memahami Probabilitas dalam Trading
Mari kita lihat data konkret agar tidak berbicara berdasarkan asumsi semata. Ambil contoh pada tahun 2020. Perhatikan distribusinya—jumlahnya mencapai 181 miliar saham. Sebelum saham tersebut terkena suspend, pasar masih sempat diguyur sekitar 11 miliar saham, lalu tiba-tiba kena suspend. Ajaib? Hebat? Terlihat seperti kebetulan? Tidak.
Mundur sedikit ke tahun 2019, distribusinya bahkan lebih besar lagi. Dari sisi likuiditas, jumlah saham yang diguyur mencapai 200 miliar saham lebih. Distribusi ini tidak sembarangan, tetapi diarahkan ke berbagai akun retail: YP retail, KK retail, CC retail, NI retail—semuanya retail. Harga distribusinya berada di kisaran Rp190–Rp220.
Sekarang bandingkan dengan kondisi saat ini, ketika harga tinggal Rp9. Kalau kamu ikut beli di area distribusi tersebut, apa kamu tidak boncos? Di sinilah prinsip penting itu kembali muncul:
Price discounts everything. Harga mencerminkan segalanya.
Harga sudah memberikan sinyal jauh sebelum suspend terjadi.
Fundamental Bagus, Tapi Tetap Bisa Suspend
Kasus seperti ini bukan satu-dua kali. Ada saham lain dengan narasi:
- Fundamental bagus
- Ekspor seragam militer ke Amerika Serikat
- Dibilang undervalued
Namun ujung-ujungnya? Suspend juga.
Banyak yang dulu sesumbar,
“Kalau turun sampai segini, saya telanjang di Monas.”
Nyatanya, saham tersebut tetap delisting.
Contoh lain pun banyak: MTK, ARTO, AISA, POIN, RUFFA, IMPC, dan lain-lain. Polanya serupa. Narasi besar, keyakinan tinggi, tapi akhirnya realita pasar berbicara lain.
Menggabungkan Analisis: Teknikal dan Transaksi
Secara ideal, analisa transaksi (bandarmologi) yang digabung dengan technical analysis adalah kombinasi yang sangat kuat. Namun dalam konteks ini, fokus utamanya adalah pure technical analysis terlebih dahulu, baru kemudian dikombinasikan, agar probabilitas hasil bisa berada di atas 50%.
Untuk itu, kita harus memahami satu konsep penting yang sering disalahpahami: perbedaan antara probability dan possibility.
Probability vs Possibility: Jangan Salah Kaprah
Probability berkaitan dengan peluang yang memiliki banyak kemungkinan jawaban.
Misalnya, kita bertanya:
“Ani, jam 7 kamu ngapain?”
Jawabannya bisa:
- Yoga
- Santai
- Main monopoli
- Padel
- Screening saham
- Ikut live trading
Banyak kemungkinan. Inilah probability. Peluangnya tidak 50:50 karena variabelnya banyak.
Sementara possibility hanya punya dua jawaban: ya atau tidak.
Contohnya:
“Ani, kamu sudah makan atau belum?”
Jawabannya cuma:
- Sudah
- Belum
Kalau pertanyaan sederhana seperti ini dijawab dengan hal yang tidak relevan, itu jelas tidak masuk akal. Inilah yang disebut possibility—jawaban bersifat biner.
Trading Dianggap Judi Karena Ini
Banyak orang menganggap trading itu judi karena mereka:
- Tidak tahu kenapa mereka untung
- Tidak tahu kenapa mereka rugi
Asal buy, asal sell. Menang atau kalah dianggap kebetulan 50:50. Dalam kondisi seperti ini, benar-benar tidak ada bedanya dengan berjudi.
Justru Saat Untung, Kamu Harus Lebih Hati-Hati
Ini poin penting yang sering dilupakan. Ketika kamu untung, justru kamu harus lebih waspada.
Belakangan ini, banyak yang “jackpot” dari saham tertentu. Grup ramai, chat penuh euforia, banyak yang men-tag dan merasa sangat bahagia. Itu wajar. Tapi di sinilah friendly reminder perlu diberikan:
Tetap membumi. Tetap humble.
Kamu wajib tahu kenapa kamu untung.
Jangan Gantungkan Kemenangan pada Orang Lain
Jawaban seperti ini tidak boleh ada:
- “Saya untung karena ikut Remora.”
- “Karena si A bilang moonstock.”
- “Karena dia selalu benar.”
Tidak boleh.
Kalau kamu tidak bisa menjelaskan secara rasional dan teknis kenapa kamu bisa menang, berarti kamu belum benar-benar belajar. Kamu hanya ikut arus.
Menang Hari Ini Supaya Bisa Menang Besok
Tujuan kita bukan hanya menemukan satu saham yang naik. Tujuannya adalah:
- Bisa menemukan “Bumi” kedua
- Bisa menemukan “Saturnus”
- Bisa menemukan “Mars” dan seterusnya
Tidak boleh hidup dari satu kemenangan saja.
Dalam trading, kita bermain probabilitas, bukan kepastian. Dengan analisa, kita meningkatkan peluang dari sekadar 50:50 menjadi lebih tinggi.
Kalau asal buy dan asal sell, ya peluangnya tetap 50:50. Tapi dengan pemahaman yang benar—tentang harga, distribusi, probabilitas, dan konteks pasar—kita tahu kenapa kita masuk dan kenapa kita keluar.
Dan itulah bedanya trader yang belajar dengan trader yang hanya berharap.
00:43:50.640
Trading Bukan Soal Tebak-Tebakan: Cara Menaikkan Probabilitas Hingga 75%
Satu hal dulu: jangan pakai muka saya sembarangan, saya kaget kalau tiba-tiba wajah saya dipakai orang. Itu satu. Sekarang kita masuk ke inti pembahasan.
Dalam trading, kondisi paling dasar itu adalah 50:50. Kalau kamu asal beli dan asal jual, tanpa pemahaman apa pun, peluang menang dan kalahmu ya segitu saja: lima puluh banding lima puluh.
Tapi kabar baiknya, probabilitas itu bisa dinaikkan.
Dari 50% ke 55%: Memahami Psikologi Market
Ketika kamu mulai menguasai psikologi market—cara membaca sentimen pasar, suasana emosi pelaku pasar—peluangmu naik. Dari 50%, bisa menjadi 55%.
Artinya, kalau kamu trading bareng saya, dan kamu paham bagaimana market “berpikir”, peluangmu untuk benar bukan lagi sekadar tebak-tebakan.
Dari 55% ke 60%: Analisa Transaksi dan VPA
Berikutnya, kalau kamu menguasai VPA (Volume Price Analysis) dan analisa transaksi, peluang menangmu bisa naik lagi menjadi 60%.
Di tahap ini, kamu tidak hanya melihat harga bergerak, tapi juga:
- bagaimana volume masuk,
- siapa yang beli,
- siapa yang jual,
- dan apakah pergerakan harga itu “sehat” atau “palsu”.
65%–70%: Kepentingan, SID, dan Psikologi Market
Probabilitas bisa naik ke 65% ketika kamu memahami kepentingan di balik pergerakan harga, termasuk:
- SID
- laporan kepemilikan
- siapa yang sedang akumulasi dan siapa yang distribusi
Dan ketika semua itu digabung dengan pembacaan psikologi market yang matang, peluang bisa mencapai 70%.
Kalau kamu perhatikan, win rate trading saya relatif besar. Bukan karena saya jago tebak arah, tapi karena saya bermain di sisi probabilitas, bukan kemungkinan.
75% Terakhir: Menguasai Diri Sendiri
Masih ada 5% terakhir. Ini bukan soal chart, bukan soal indikator, tapi soal self psychology.
Ini mencakup:
- main di saham yang uptrend,
- main di saham yang ramai,
- tidak “fiddle in the middle”,
- selalu punya rencana,
- tahu kapan masuk dan kapan keluar.
Kelihatannya kecil, cuma 5%, tapi ini sering jadi pembeda antara trader yang konsisten dan trader yang mentalnya hancur.
Bukan Janji, Tapi Kepercayaan Diri
Banyak orang bilang ke saya:
“Heng, lu nggak boleh menjanjikan hasil.”
Dan saya jawab: saya tidak menjanjikan. Saya percaya diri.
Kalau kamu menguasai semua ini dengan benar, dalam satu tahun portofolio kamu bisa kali dua. Itu bukan mimpi, itu sangat mungkin.
Saya sudah melihat sendiri. Orang nanya:
“Beli apa nih?”
Saya jawab:
“Bumi.”
Saya jelaskan panjang lebar, dan akhirnya mereka masuk. Semua masuk. Dan saya percaya diri karena saya pakai A, B, C, D, E, K—bukan feeling.
Win rate di atas 75% itu bukan sulap. Ada syaratnya.
PR-nya Cuma Satu: Bisa Menunggu
PR kamu cuma satu: bisa menunggu.
Kalau kamu tidak mengerti market, biaya yang kamu bayar itu bukan uang—tapi waktu. Karena itu, kita selalu bermain di sisi probability, bukan possibility.
Alat yang Saya Gunakan: Sederhana tapi Berat
Metode utama yang saya gunakan untuk meningkatkan probabilitas adalah:
- Price
- Volume
- Bandarmologi
Saya tidak bergantung pada:
- nama-nama candlestick,
- pola fancy,
- teori “kalau X pasti Y”.
Candlestick, support resistance, dan sejenisnya itu ada banyak di luar sana. Bahkan saya sendiri sering tidak hapal nama candle. Kadang saya cek ke teman, atau sekarang ke ChatGPT: “ini candle apa sih?”
Tapi jujur saja, saya tidak pakai itu sebagai senjata utama.
Tidak Ada Holy Grail di Market
Ini penting:
Tidak ada holy grail di capital market.
Tidak ada:
- hammer pasti naik,
- pola A pasti hasilnya B.
Karena setelah X bisa jadi Y, bisa juga jadi Z, atau bahkan jadi XX. Itulah keindahan sekaligus kekejaman capital market.
Kalau kamu sudah pakai:
- fundamental,
- makro,
- sektor,
- atau pendekatan apa pun,
Silakan. Tapi kombinasikan dengan analisa transaksi dan price & volume.
Back to Basic (dan Pilihannya Cuma Dua)
Semua ini kembali ke basic.
Kalau kamu tidak mengerti basic ini, pilihannya cuma dua:
- Kerja keras sampai paham (dan ini berat).
- Atau tinggalkan capital market dan fokus ke kerja 9-to-5.
Pilihan ada di tanganmu.
Materi ini bukan materi ringan. Dari awal saya sudah bilang: di sini tidak ada yang “basic-basic”. Kalau mau lanjut, kamu harus siap kerja keras.
Dan semua ini akan saya jelaskan lebih dalam lagi ke depan.